Showing posts with label muhasabah. Show all posts
Showing posts with label muhasabah. Show all posts

Tuesday, December 25, 2012

~KRITIK MENGKRITIK~



بسم الله الرمن الرهيم




Lets ponder this word:-

"Talking about people with ill intent shows a defective imagination and lack of passion in your own life. If you persistently nibble on how people conduct their lives, you're wasting away the time you need to tend to the upgrowth of your own soul." — Dodinsky

Pernahkah anda berhadapan dengan segolongan insan seperti ini??

Kadangkala diri tertanya-tanya juga apa tujuan hanya sekadar mengkritik?

Apatah lagi jika kritikan yang diberi itu bukannya kritikan membina malah membantutkan semangat orang lain??

Tidakkah sayang?? tidakkah rugi??

Alangkah baiknya jika kritikan itu ditukar kepada tindakan?

Mereka yang lebih mahir dan berpengalaman tunjuk ajar pada mereka yang masih baru dalam sesuatu perkara/ilmu?

Bukan setakat kedua-dua pihak mendapat manfaat bersama malah tanpa kita sedar kita sudah 'menyediakan' pelapis untuk melaksanakan kerja tersebut dan memperoleh pahala berterusan dalam mengajar ilmu bermanfaat pada orang lain. inshaAllah :)

Berakhlaklah dengan akhlak seorang Muslim. Bukankah itu yang diajarkan oleh Nabi kita?? :)

Ayuh, marilah bersama menjadi umat yang tidak jemu berkongsi dan memberi tunjuk ajar pada insan-insan disekeliling kita.

Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang, bila lagi??

Berhentilah menilai dan memperlekehkan orang. Jangan disebabkan oleh sikap kita, menyebabkan mereka yang hendak mencuba berhenti !






Jadilah kita orang yang menyebarkan KEGEMBIRAAN
BUKAN KESEMPITAN.
MUDAHKANLAH urusan dan JANGAN disusahkan!

p/s:- peringatan buat diriku jua~





Saturday, March 17, 2012

~PENGHAPUS KENIKMATAN~



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيم

Alhamdulillah, diri terpilih dan diberi kesempatan olehNya untuk mengikuti Kursus Pengurusan
Jenazah baru-baru ini.

Sebelum ini hanya pernah belajar teorinya saja semasa di Tingkatan 3
serta pernah turut serta melaksanakan sembahyang jenazah ghaib buat kali pertama semasa diri ini di Tahun 1 bidang Perubatan.

dan alhamdulillah kali ini mendapat pendedahan lengkap dari proses awal 'kematian' sehinggalah kepada proses mengebumikan jenazah..

_________________________________________________



Sejak pulang dari kursus Pengurusan Jenazah tempoh hari, diri ini agak cemburu akan insan-insan yang dipilih olehNya untuk syahid.

Bukan calang-calang orang yang akan terpilih untuk memenuhi darjat tertinggi disisi Allah itu hanya mereka yang bersungguh-sungguh dalam meraih darjat tersebut akan 'menemuinya'

bukannya buat mereka yang sekadar memasang cita-cita mati fisabilillah! :(

Kebiasaannya, insan-insan yang terpilih ini sudah 'diketahui' bahawa 'status kematiannya' melalui cara hidupnya sebelum syahid lagi..

Sungguh bertuah mereka yang terpilih,
masakan tidak,
mereka tidak dianggap mati disisi ALLAH!





"dan janganlah kamu mengatakan (bahawa) sesiapa Yang terbunuh dalam

perjuangan membela agama Allah itu: orang-orang mati;

bahkan mereka itu orang-orang Yang hidup (dengan keadaan hidup Yang istimewa),

tetapi kamu tidak dapat menyedarinya". (AL-BAQARAH:154)
______________________________________________________


Kematian pesakit akan menjadi suatu perkara yang boleh dilihat/didengari hari-hari dalam
kehidupan seorang pengamal perubatan,
Mudah-mudahan ia akan menjadi suatu peringatan buat diri
dan moga dijauhkan dari menjadi 'lali'/desensitized bilamana kerap kali
mendengar/berhadapan dengannya! Nauzubillahi min zalik...

Sungguh, mengingati mati itu sebaik-baik pemberi ingatan dan perosak kelazatan.


Adakah kita sudah bersedia untuk menghadapi kehidupan selepas mati???

~Fikirlah walau sejenak~



Wednesday, February 8, 2012

‎10 THINGS WE WASTE...


‎10 THINGS WE WASTE...!!

(Ibn Qayyim al-Jawziyyah)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيم


1. --Our Knowledge--
Wasted by not taking action with it.

2. --Our Actions--
Wasted by committing them with out sincerity.

3. --Our Wealth--
Wasted by using on things that will not bring us ajr. We waste our money, our status, our authority, on things which have no benefit in this life or in akhirah.

4. --Our Hearts--
Wasted because they are empty from the love of Allah, and the feeling of longing to go to Him, and a feeling of peace and contentment. In it's place, our hearts are filled with something or someone else.

5. --Our Bodies--
Wasted because we don't use them in ibadah and service of Allah

6. --Our Love--
Our emotional love is misdirected, not towards Allah, but towards something/someone else.

7. --Our Time--
Wasted, not used properly, to compensate for that which has passed, by doing what is righteous to make up for past deeds

8. --Our Intellect--
Wasted on things that are not beneficial, that are detremental to society and the individual, not in contemplation or reflection.

9. --Our Service--
Wasted in service of someone who will not bring us closer to Allah, or benefit in dunyaa

10. --Our Dhikr--
Wasted, because it does not effect us or our hearts

~copypaste from productive muslim article~

Do the right things. Life is short!!!

Tuesday, May 31, 2011

PUTUS ASA~



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيم

Putus asa bukanlah sebuah pilihan dalam kehidupan seorang yang beriman.

Yaakub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya."

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".
(Yusuf: 86-87)


Berkata Ibrahim: "Apakah kamu memberi khabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu khabarkan ini?" Mereka menjawab: "Kami menyampaikan khabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa". Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat". (Al-Hijr: 54-56)


Teruslah berusaha, pantang putus asa, menyerah kalah, lemah, tetaplah optimis, dan iringinya dengan berdoa.


Do'a adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi. (HR. Abu Ya'la)


Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina". (Al-Mu'min: 60)


Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya). (An-Naml: 62)


Ketika kesulitan dan masalah yang begitu sesak menghimpit dada, ketika jalan keluar bagaikan suatu hal yang mustahil maka kuatkanlah kesabaranmu (bersabar dalam erti terus berusaha dan menjaga diri dari melakukan perbuatan yang dilarang) dan yakinlah bahawa Tuhanmu, Allah SWT, adalah zat yang Maha Perkasa.

Sentiasalah libatkan Allah dalam kehidupan kita, dalam kesulitan, dan dalam kesyukuran, ketika kesukaran telah berganti kebahagiaan. Insya Allah.

Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Al-Insyiraah: 5-6)


Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Ath-Thalaaq: 4)

-------------------------------------------------------------------

Luqman Al-Hakim pernah berpesan kepada anaknya," Wahai anakku,dunia ini ibarat lautan yang dalam,ramai manusia yang tenggelam didalamnya.Jadikanlah taqwa sebagai bahteramu,iman sebagai penumpang dan tawakal sebagai layarnya,semoga engkau beroleh kejayaan..."


"Jangan menuntut kepada Allah kerana terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepadaNya. Namun, hendaknya engkau menghitung diri. Tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajipan-kewajipanmu kepada Allah SWT." (Ibnu Athailah)


"Allahumma Nawwir Qulubana Bi-Nuri Hidayatika Kama Nawwartal Arda Bi-Nuri Syamsika Abadan, Abadan, Abadan, Birohmatika Ya Arhamar Rahimin"

[Ya Allah, Pancarkanlah Cahaya Kepada Hati Kami, Dengan Cahaya Hidayahmu Sebagaimana Engkau Cahayai Bumi Dengan Mataharimu Selamanya,. Selamanya,. Selamanya,, Berkat Kasih Sayangmu Wahai

Dzat Yang Sebaik-Baik Melimpahkan Cinta Kasih Sayang..]

P/S:-EXAM FEVER-MAY BRING US CLOSER TO ALLAH~

Wednesday, May 4, 2011

~QADHA’ & QADAR~



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيم


NASIHAT GURU KEPADA MURIDNYA TENTANG QADHA’ & QADAR

Pernah suatu ketika seorang murid menghadap gurunya lalu berkata:

“Wahai guru, kamu seringkali menyampaikan kepadaku tentang masalah yang sangat menarik hatiku sehingga ingin sekali aku menanyakannya kepada guru,

Mengapakah Allah SWT mentaqdirkan hidayah dan kesesatan??

Mengapa tidak hidayah saja??

Mengapa Allah SWT mentaqdirkan kepada suatu kaum berupa kebahagiaan sedangkan kaum yang lainnya ditaqdirkan sengsara??

Mengapa tidak kebahagiaan sahaja??

Mengapa ada syurga dan neraka, bukan hanya syurga??

Apa dosa yang ditaqdirkan untuk tersesat dan kesengsaraan??”
______________________________________________
____________

Jawab si guru:
“Sesungguhnya pembahasan masalah ini erat sekali kaitannya antara Khaliq dan makhluk.

Yang pertama kita mulakan dengan masalah yang berkaitan dengan makhluk.

Masalah ini sesungguhnya erat sekali hubungannya dengan kita sendiri dan lebih dekat dengan indera kita.

Menurut hemat saya, manusia itu mempunyai akal.

Dengan akal itu juga timbulnya taklif(pembebanan hukum), beerti seseorang yang berakal adalah mukallaf(yang dibebani hukum).

Oleh kerana itu, tidak ada taklif bagi anak kecil dan orang gila.

“Di sisi lain, manusia itu mempunyai kebebasan.

Ini tidak boleh disangkal oleh orang yang berakal.

Dia berdiri, didik, bahkan pergi dan datang kerana kebebasannya.

Dia boleh berbuat taat kalau kamu mahu, dan boleh juga bebas melakukan kemaksiatan jika mahu.

Dengan demikian, dia tidak boleh berdalih hanya kerana takdir.”

“Jika dia tetap berdalih pada takdir, sementara potensi dirinya diketepikan,
cuba kita pukul saja dia atau disakiti, atau kita lecehkan harga dirinya, maka bagaimana reaksinya??

Atau kita katakan saja padanya, bahawa aku melakukan ini kerana takdir.

Aku tidak boleh menolak terhadap sesuatu yang telah ditentukan kepadaku sebagaimana yang kamu katakan itu.

Mengapa kamu membela dirimu dalam berbuat maksiat kepada Allah dengan alasan takdir,sementara yang lain tidak kamu bela??

Jika dia tidak memaafkan kita, hujahnya jelas kalah.”

“Jika kita menyuruh kepada orang itu supaya taat, sedang dia menjawab:

“Ya, aku akan taat jika Allah berkenan memberi petunjuk.”

Maka katakan saja kepadanya: “Sesungguhnya masalah petunjuk itu identik dengan rezeki.

Allah SWT Maha Pemberi rezeki sebagaimana Allah Maha pemberi petunjuk.

Jika kamu menunggu petunjuk dari Allah tanpa ada usaha sama sekali, maka cuba kamu menunggu rezeki tanpa ada ikhtiar, atau duduk saja di rumahmu, tutuplah pintumu sehingga rezeki yang kamu tunggu itu datang sendiri kepadamu!”

“Orang itu pasti akan menolak. Dia akan mengatakan “Tentu saja kita harus berusaha dan berikhtiar mencari rezeki!”

Dengan pengakuannya itu, hujahnya itu lemah dan dapat dikalahkan.”

Kita berkata lagi kepadanya:

“Kamu bersandar kepada takdir dan mengatakan bahawa segala sesuatu itu berlaku berdasarkan titah qadha’ dan qadar. Ini memang boleh dibenarkan.

Namun cubalah api ini kamu pegang dengan tanganmu, maka jika ditakdirkan membakar, tentu api itu akan tetap membakar.”

Jika dia menolak, maka kalah juga hujahnya.

Katakan pula kepadanya, “Sesungguhnya, manusia akan menghindari segala sesuatu yang tidak disukai.

Misalnya akan terlanggar kereta, maka dia akan segera mengangkat kedua tangannya, meskipun kedua tangannya itu sebenarnya tidak mampu untuk menghalangnya.

Begitu juga orang yang akan tenggelam, dia akan melambai-lambaikan tangannya agar selamat dari tenggelam, meskipun dengan lambaian tangannya itu tidak akan menjamin keselamatannya.”

Jika demikian, mengapa orang yang berakal tidak berusaha menghindarkan dirinya dari kesengsaraan di akhirat dengan kemampuan dan kebebasan yang telah diberikan kepadanya?????


SUMBER:-
BUKU:-50 PESANAN RASULULLAH S.A.W BUAT MUSLIMAH

Friday, March 18, 2011

~Kisah si Pemalas & Imam Abu Hanifah~




بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيم

Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu.



Keluhannya mengandungi kata-kata, “Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi lagi belum datang sesuap nasi atau makanan pun di kerongkongku sehingga seluruh badanku menjadi lemah longlai. Oh, manakah hati yang belas ikhsan yang sudi memberi curahan air walaupun setitik.”



Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah berasa kasihan lalu beliau pun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu. Sebaik saja dia sampai ke rumah orang itu, dia terus melemparkan bungkusan yang berisi wang kepada si malang tadi lalu meneruskan perjalanannya.



Dalam pada itu, si malang berasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas beliau tergesa-gesa membukanya. Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi wang dan secebis kertas yang bertulis, .” Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak pernah atau perlu mengeluh diperuntungkan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cubalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus”



Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu dan suara keluhan itu kedengaran lagi, “Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kelmarin,sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku, wahai untung nasibku.”



Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi wang dan secebis kertas dari luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya. Orang itu terlalu riang sebaik saja mendapat bungkusan itu. Lantas terus membukanya.



Seperti dahulu juga, di dalam bungkusan itu tetap ada cebisan kertas lalu dibacanya, “Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian ‘malas’ namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak redha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya.



Jangan?.jangan berbuat demikian. Hendak senang mesti suka pada bekerja dan berusaha kerana kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak perlu atau disuruh duduk diam tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan perkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus asa. Nah?carilah segera pekerjaan, saya doakan lekas berjaya.”



Sebaik saja dia selesai membaca surat itu, dia termenung, dia insaf dan sedar akan kemalasannya yang selama ini dia tidak suka berikhtiar dan berusaha.

Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak dari hari itu, sikapnya pun berubah mengikut peraturan-peraturan hidup (Sunnah Tuhan) dan tidak lagi melupai nasihat orang yang memberikan nasihat itu.


~Dalam Islam tiada istilah pengangguran, istilah ini hanya digunakan oleh orang yang berakal sempit. Islam mengajar kita untuk maju ke hadapan dan bukan mengajar kita tersadai di tepi jalan~

Sunday, January 23, 2011

~Amalan manakah yang Allah terima?~



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيم

Seperti biasa selesai majlis ilmu, si penceramah akan turut serta membantu petugas-petugas majlis mengemas kembali dewan majlis. Ketika beliau sedang menyusun kerusi, seorang petugas menghampiri beliau sambil berkata "Tuan, biarkan saja kami yang melakukannya kerana tuan masih penat berceramah tadi".

Dengan senyum beliau menjawab,


"Tidak mengapa, walaupun aku yg menyampaikan ilmu tetapi aku khuatir amalan manakah yang Allah terima dariku, sama ada kerana aku menyampaikan ilmu atau kerana aku menyusun kerusi-kerusi ini" ~as-Syahid Imam Hasan al-Banna~


"Dan katakanlah,bekerjalah kamu,maka Allah akan menyaksikan pekerjaanmu,begitu juga rasulNya dan orang-orang mukmin....dan kamu akan dikembalikan kpd Allah yg mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kpd kamu akan apa yg telah kamu kerjakan" ~(AT-TAUBAH:105)


maka lakukanlah sesuatu hal dengan ikhlas..renung-renungkan dan selamat beramal..^_^

Saturday, January 8, 2011

~10 PEMBASUH DOSA & PENAWAR HATI~

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيم


Hassan al-Basri r.a. berkata: "Ketika saya berkeliling di jalan-jalan kota Bashrah dan di pasarnya dengan seorang pemuda ahli ibadah, tiba-tiba saya melihat seorang tabib yang sedang duduk di atas kerusi."

Dia dikelilingi oleh laki-laki, perempuan dan anak-anak.

Di tangan mereka masing-masing terdapat gelas yang berisi air. Mereka meminta petua dan ubat untuk penyakitnya.

Kemudian, pemuda yang bersamaku maju ke depan tabib, lalu dia berkata:

"Wahai tabib, apakah kamu punya ubat yang mampu membersihkan dosa dan menyembuhkan penyakit hati? "

Kemudian, si tabib itu menjelaskan:

"Ambillah sepuluh macam ramuan:

  1. Ambillah akar pohon fakir bersama akar-akar pohon tawaddhu'
  2. Campurkanlah padanya tumbuhan taubat,
  3. Taruhlah ke dalam bekas keredhaan,
  4. Tumbuklah dengan penumbuk qana'ah,
  5. Masukkan dalam kuali taqwa,
  6. Lalu tuangkanlah padanya air malu,
  7. Didihkanlah dengan api mahabbah,
  8. Tuangkanlah ke dalam gelas syukur,
  9. Kemudian kipaslah dengan kipas harapan,
  10. Lalu minum dengan sudu pujian.

Sesungguhnya jika kamu mengerjakan hal itu, maka akan menjadi ubat bagimu dari semua penyakit dan bencana di dunia dan di akhirat."

- Dipetik daripada Kitab Nashaihul 'Ibad, Imam Nawawi-

N.B:-

(1) Qana’ah :-menerima cukup atau sentiasa berasa cukup.

(2) Tawaddhu' :-
kerendahan hati
,

(3) Taqwa :-Menunaikan perkara yang diwajibkan oleh Allah ta’ala serta meninggalkan

perkara yang dilarang olehNya.

(4) Mahabbah :- Kasih sayang,